Sejarah – Media Cakra Nusantara,- Pedang sabel atau sabre asal Aceh ini merupakan mahakarya yang terbaik dijenisnya. Pedang bergaya India ini dalam bahasa Aceh disebut ๐๐ฆ๐ถ๐ฅ๐ฆ๐ถ๐ฏ๐จ ๐๐ฏ ๐๐ฐ๐ฌ. Panjang keseluruhannnya 97 cm. Bilahnya berbentuk melengkung terbuat dari campuran besi dan baja bermutu. Sarungnya dari kulit tebal yang bercat merah. Gagangnya dihiasi dengan pelat emas tebal dan bertahtakan berlian kecil. Relief tumbuhan dengan burung-burung menjadi penghias lapisan bagian luar pelindung tangan, yang mungkin merepresentasikan keindahan syurga. Biasanya bagian dalam pelindung tangan dilapisi tekstil tebal, mungkin saja sudah terlepas. Di bagian mahkota gagang dihias dengan motif vegetal bertingkat yang disebut “๐๐ญ๐ฆ๐ฆ ๐๐ฆ๐ถ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ฌ” dengan tehnik ๐ง๐ช๐ญ๐ช๐จ๐ณ๐ฆ๐ฆ. Pegangannya dibuat dari kawat perak yang dianyam dengan sangat rumit.
Seperti senjata Aceh berhias emas lainnya, bagian mahkota diwarnai dengan enamel, yang disebut ๐ฌ๐ข๐ค๐ข๐ธ๐ข๐ณ๐ฅ๐ช atau ๐ค๐ข๐ธ๐ข๐ณ๐ฅ๐ช dalam bahasa Aceh. Emasnya seringkali memiliki kandungan tinggi, rata-rata lebih dari 18 karat. Banyak perhiasan emas dibuat lebih merah secara artifisial yang disebut ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฑ๐ฐ๐ฉ, seperti pada senjata ini. Penyepuhan merah di Aceh dilakukan dengan merebus emas dengan campuran tawas, garam, limau (lemon), dan belerang dengan beberapa kali celapan yang rata-rata memakan waktu 11 jam. Pelapisan enamel mesti dilakukan sebelum emas dimerahkan.
Pada pedang ini pelapisan enamel khusus dibagian mahkotanya dengan warna hijau dan hitam menggunakan teknik ๐ค๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ญ๐ฆ๐ท๐ฆ. Kacawardi yang tersedia secara komersial adalah hitam, hijau, putih, dan biru tua. Warna merah tidak digunakan, karena biasanya dalam perhiasan Aceh warna tersebut dapat menggunakan batu permata mirah delima dari jenis ruby ataupunspinel. Bahan enamel tersebut berasal dari Tiongkok yang umumnya diimpor dari Singapura atau Pulau Pinang (Penang). Bahan untuk enamel pertama-tama digosok halus dan dibuat pasta dengan air. Dengan bulu, motif bagian dalam emas diisi dengan hati-hati sesuai yang diinginkan. Setelah itu dibakar pada oven yang terdiri dari dua pot tanah liat yang dilubangi, dan dipanaskan dengan api besar. Setelah itu objek dibersihkan dengan kikir dari kemungkinan penyimpangan yang tidak perlu, itu semacam pemolesan. Pedang mewah ini, sudah lama menjadi koleksi museum di Belanda. Kemungkinan pedang ini dirampas ketika Perang Aceh-Belanda berlangsung. Melihat kemewahan pedang ini, kemungkinan pemiliknya adalah pejabat tinggi kerajaan. (RIO)




