BLORA , MEDIA CAKRA NUSANTARA – Rencana aksi “Tumpah Tebu” yang digagas petani tebu dan elemen masyarakat di Kabupaten Blora dipastikan tetap dilaksanakan pada 1 Juni 2026 di depan Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) Todanan. Aksi tersebut menjadi wadah bagi petani untuk menyampaikan aspirasi terkait krisis yang dinilai mengancam keberlangsungan usaha tani tebu di daerah tersebut.
Koordinator aksi, Exy Wijaya, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penyampaian pendapat di muka umum yang dijamin oleh konstitusi dan menjadi hak demokratis setiap warga negara.
Menurutnya, koordinasi dengan pihak kepolisian telah dilakukan secara terbuka. Dalam komunikasi tersebut, Polres Blora menyatakan kesiapan untuk mengawal jalannya aksi agar berlangsung aman, tertib, dan kondusif.
Selain pengamanan kegiatan, kepolisian juga disebut siap membantu pengawalan distribusi tebu milik petani yang akan dikirim ke sejumlah pabrik gula di luar Kabupaten Blora guna menghindari kerugian akibat terhambatnya proses penggilingan.
“Aksi ini bukan sekadar demonstrasi, tetapi ruang bagi petani untuk menyampaikan kegelisahan dan harapan mereka terhadap masa depan industri gula serta nasib petani tebu yang terdampak,” ujar Exy dalam keterangan persnya.
Dalam pelaksanaannya, aksi akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti mimbar bebas petani, orasi kerakyatan, pembacaan tuntutan, teatrikal sosial, hingga aksi simbolik tumpah tebu sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang dihadapi petani saat ini.
Massa aksi menilai persoalan yang terjadi dalam tata kelola industri gula, khususnya yang berkaitan dengan PG GMM, telah menimbulkan dampak langsung terhadap petani. Mereka menuntut adanya kejelasan dan tanggung jawab agar petani tidak terus menjadi pihak yang menanggung beban akibat persoalan industri.
Pemilihan tanggal 1 Juni, yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, disebut memiliki makna khusus. Exy menjelaskan bahwa momentum tersebut dipilih untuk mengingatkan kembali nilai-nilai perjuangan yang berpihak kepada rakyat kecil sebagaimana gagasan yang pernah disampaikan oleh Proklamator RI, Soekarno, melalui konsep Marhaenisme.
Menurutnya, perjuangan petani hari ini sejalan dengan semangat memperjuangkan keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan keberpihakan kepada kaum kecil yang menjadi bagian penting dari nilai-nilai Pancasila.
“Aksi ini akan dilaksanakan secara damai, tertib, dan penuh semangat solidaritas rakyat. Kami ingin menyampaikan bahwa petani tidak boleh terus menjadi korban ketika terjadi krisis di sektor industri gula,” tegasnya.
Aksi Tumpah Tebu diperkirakan akan diikuti oleh petani tebu, mahasiswa, dan sejumlah elemen masyarakat dari berbagai wilayah di Blora yang memiliki kepedulian terhadap nasib industri gula dan kesejahteraan petani.
(Redaksi/SAM)






